Tips Psikologi: Anak Kita dan Facebook

tabloidnova.com- Setelah Amerika dan China, menurut sahibul hikayat, Indonesia adalah pengguna Face Book (FB) terbanyak di dunia.
Anak-anak kita yang berusia remaja, bahkan pra-remaja (12 tahunan) pun tak lepas kesukaan ber-facebook ria. Mengiringi fenomena ini, mulailah  orang tua resah karena mendapati anaknya punya “date” alias janji-janji dengan pria yang mereka kenal melalui FB. Dan karena terjadinya di dunia maya, maka tukang ojek berwajah lumayan, mudah sekali memberi kesan bahwa ia adalah  mahasiswa tahun terakhir ITB. Dengan adanya fenomena ini, hampir mustahil rasanya melarang anak-anak ber-FB. Manfaat FB sebenarnya juga cukup banyak bila digunakan  untuk hal-hal positif. Kata kunci untuk mengendalikan anak-anak adalah dengan mengalihkan perhatian.

Mengapa demam FB ini demikian hebat? Karena anak usia pra remaja dan remaja punya kebutuhan besar untuk mengidentifikasikan diri dengan hal yang lekat dengan atribut “keremajaan” mereka. Yang teman-temannya lakukan, terasa wajib ia lakukan juga.

Apalagi untuk anak pemalu, mereka akan mendapat kompensasi luar biasa dari kontak sosial di dunia maya, karena tanpa harus face to face, obrolan bisa lancar mengalir. Efeknya,  cinta maya (bukan lagi cinta monyet)  mudah sekali bersemi dan menjadi prioritas utama, menggeser kesenangan lain yang lebih sehat dan mendewasakan kepribadian dalam konteks dunia nyata.

MENCEGAH SELALU LEBIH MUDAH

Dalam psikologi, ada prinsip dasar yang diyakini, bahwa bila sesuatu mendatangkan perasaan positif, maka ini akan cenderung diulang dan diulang lagi. Demikian pula sebaliknya, akan dihindari dan malas dilakukan, bila  menghasilkan pengalaman tidak menyenangkan dan perasaan yang negatif.

Fenomena Facebook berakar pada pencarian jati diri, di tempat yang salah pada waktu yang salah pada orang yang tidak tepat pula. Maka, jadilah ibu, dan ayah yang menjadi teladan nyata bagi anak kita, agar mereka punya keinginan dan aspirasi ”Ah, kalau sudah dewasa kelak, aku ingin jadi sepeti Mama (Papa).” Jujur, punya integritas dalam menjalani hidup adalah pola ideal yang bila diadopsi anak, akan membuatnya mampu menjalani hidup dengan keputusan-keputusan bertanggung-jawab, termasuk tanggung jawab membagi waktu ntuk hal yang bermanfaaat bagi dirinya. Sopan santun terjaga, respek pada orang lain dan peduli pada kenyamanan orang, adalah sumber kematangan anak untuk mampu berhenti sejenak memikirkan diri sendiri dan punya keinginan untuk menyenangkan hati orang tua dan orang lain di sekitarnya. Tanpa ini, egoisme akan tumbuh subur, sehingga ia akan cuek, tetap mempertahankan perilaku dan kebiasaan yang jelas-jelas membuat ibu dan ayahnya tidak nyaman.

Rumah, mustinya jadi HOME dan bukan House. Bukankah bila rumah adalah tempat nyaman untuk pulang, anak akan tidak suka berkeliaran di Mall, di terminal bus ataupun membuat janji ketemuan di luar rumah? Bukannya tidak bocor atau kamarnya ber-AC, tetapi isi rumah itu sendiri, orang yang tinggal di dalamnya, mustinya mendatangkan rasa aman, diperhatikan dan diterima apa adanya, sehingga semua penghuni betah berlama-lama di dalamnya.

Orang tua, akan tetap bijaksana dan tidak “parno” alias sedikit-sedikit curiga atau cemas tanpa alasan jelas, bila ia juga rajin meng-up grade diri dengan kemajuan teknologi. Perlu tahu apa itu internet, apa yang terjadi di warnet, apa rasanya ber-FB, sehingga kesenangan dan kenikmatan yang melanda anak, bisa kita hayati juga. Utamanya, bila kita bisa bicara dalam “bahasa” yang sama dengan anak tentang sesuatu hal, ini akan membuat anak merasa  ia dipercaya sehingga punya tanggung jawab untuk memelihara kepercayaan ibu dan ayahnya.

Akhirnya, tetap beri peluang bagi anak untuk merasakan dan kemudian meyakini bahwa individu punya kebutuhan dasar untuk connected, terhubung secara nyata dengan individu lain, melalui kontak mata, sentuhan, pelukan dan belaian sayang dari orang yang menyayanginya. Bukankah,  Anda adalah orangnya? Sumber rasa sayang dan aman untuk anak Anda? Jangan pernah gantikan ini dengan limpahan fasilitas tekonolgi mutakhir yang lalu membuat anak makin terbenam dalam dunia maya yang sebenarnya cuma memberi semua rasa tadi, tetapi dalam bentuk semu, tidak nyata.
Rienny Hassan, pengasuh Rubrik Psikologi Tabloid NOVA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: